Aku Bangga

Dosen Universitas HAMKA Jakarta Alfian Tanjung

menegaskan dirinya bangga menjadi orang antikomunis. Itu dia kemukakan

menanggapi anggota DPR Ribka Tjiptaning Proletariyati yang lantang menyatakan

bahwa dirinya bangga menjadi anak aktivis Partai Komunis Indonesia (PKI).

 

Penegasan Alfian Tanjung itu dikemukakan saat mendampingi Panglima Kodam Jaya

Mayor Jenderal Agustadi Sasongko Purnomo pada jumpa pers, seusai acara serah

terima jabatan Kepala Staf Kodam Jaya dari Brigjen Pruyanto kepada Brigjen

Darpito P, di Aula Sudiman, Makodam Jaya, Jakarta, Sabtu siang.

 

Alfian Tanjung yang mengaku sebagai kader gerakan Islam, yang secara ideologis

tidak akan pernah bertemu dengan komunis, kembali menguraikan upayanya untuk

mengumpulkan data-data mengenai kegiatan kader-kader komunis di berbagai

daerah, terutama di Jawa Timur.

 

Ketika ditanya mengenai data-data yang dia peroleh, menurut Alfian, yang paling

nyata dan menjadi ikon adalah Ribka Tjitaning Proletariyati yang telah

meluncurkan bukunya pada awal Oktober 2002 dengan judul "Aku Bangga Jadi Anak

PKI" dan pada pertengahan tahun lalu dia meluncurkan buku kedua dengan judul

"Anak PKI Menjadi Anggota Parlemen".

 

Menurut Alfian, gerakan kader komunis Indonesia pada saat ini sudah mencapai

"stadium empat". "Saya melihat bahwa hal ini merupakan kelicikan dan kelicinan

cara bermain kader-kader komunis - PKI - sejak dulu. Mereka menunggu sampai

orang tidak berdaya dan kemudian baru memukul mati lawan-lawannya," ujarnya,

tegas.

 

Alfian menyadari bahwa apa yang dia kemukakan itu akan mendapat reaksi negatif.

"Saya katakan, siapapun yang ingin kembali membangkitkan paham komunis di

Indonesia, anda boleh menganggap sudah cukup di atas angin. Tetapi, Anda akan

berhadapan dengan orang-orang yang siap mati untuk menghadapi kebangkitan

anda," kata Alfian.

 

Ditegaskan pula bahwa kebangkitan komunis (di Indonesia) sedang menunggu hari.

Ini sangat kentara dengan munculnya buku-buku, demonstrasi yang menggunakan

lambang-lambang Palu Arit dan kaos-kaos Palu Arit yang banyak dipakai mahasiswa

di beberapa kampus. "Saya pikir bukan persoalan simbul, tetapi persoalan akar

kemengapaan orang-orang itu muncul," katanya.

 

Alfian juga bersedia menyebutkan nama-nama kader komunis yang sekarang duduk di

DPR, antara lain HM Rusli yang dulu menjadi Ketua PRD kini menjadi petinggi di

PAN. Kemudian Yusuf Lakaseng, yang dahulu petinggi PKI muda yang sekarang

berada di PBR. Dalam masalah ini, Alfian menyatakan, siap untuk menyebutkan

orang-orang itu satu persatu, asalkan mereka berkata jujur dalam permasalahan

ini.

 

"Apabila Ribka Tjiptoning yang mewakili PDIP secara terang-terangan menyatakan,

bangga menjadi anak PKI. Maka saya menyatakan, bangga menjadi antikomunis atau

anti-PKI," kata Alfian. Dia mengatakan, kalau memang harus ada pertarungan

lagi, maka hal itu akan dilanjutkan. "Masalahnya persoalan itu bukan urusan

hari ini, karena negara kita sedang menghadapi berbagai persoalan yang cukup

banyak, multi krisis yang harus ditangani. Intinya ingin saya katakan, hari ini

adalah lahan subur kebangkitan PKI," katanya lagi.

 

Alfian mengingatkan, pencabutan TAP MPRS Nomor XXV/1966 bukan persoalan sepele.

Itu merupakan kerangkeng keras yang dibangun dengan tiga implikasi. Karena bila

TAP di cabut, berarti PKI tidak salah. Kalau PKI tidak salah, maka yang salah

adalah TNI dan umat Islam.

 

"Jika TAP itu dicabut maka mereka (PKI - Red) punya hak untuk rehabilitasi dan

konpensasi. Artinya, pemerintah harus keluarkan uang Rp 2,5 miliar kali 20 juta

klaim anggota mereka. Dengan demikian PKI juga boleh ikut pemilu 2009. Ini

bukan bercanda," kata Alfian.

 

Dia mengingatkan, apabila tahun 1948 (tragedi Madiun) sudah berdarah-darah,

tahun 1965 (G30S) kembali berdarah-darah, apakah itu harus terulang lagi.

"Ancaman kebangkitan kembali PKI cukup serius," ujar Alfian. (M Senoatmodjo)

 

 

 

Tentang Fadhilah Bulan Rojab Itu

“Bahwasanya Rajab itu bulan Allah, Sya’ban bagiku dan Ramadhan bagi umatku.”
(Hadits Rosululloh SAAW)


Sahabat, waktu terus bergulir tanpa ada sesiapa yang bisa menghentikannya. Masa ini sampailah kita ke sebuah bulan yang mulia, sebuah bulan yang termasuk dalam golngan bulan harom, yaitulah dia bulan Rojab. Rojab datang dengan membawa segala kemuliaan dan kelebihannya. Sebagai seorang muslim, sudah seyogyanya bagi kita untuk mengisi nya dengan kemuliaan pula.

Berikut sedikit yang dapat saya rangkum tentang kelebihan serta keutamaan "Bulan Alloh" ini. Selamat menikmati dan mengambil pelajaran.

  1.  Nabi Saw. bersabda:
    “Di malam Isra’-Mi’raj, aku melihat sebuah begawan, airnya manis melebihi madu, sejuk melebih es, harum melebihi kasturi. lalu kutanyakan kepada Jibril, Jawabnya: ‘Benganwan itu disediakan bagi orang yang bershalawat kepadamu di bulan Rajab.’”
  2. Dikatakan pula bahwa setelah Rajab habis (hitungan bulannya), maka ia naik ke langit, lalu Allah SWT. Befirman: ” Hai bulanKu, apakah mereka mencintai dan memulyakanmu. Maka diamlah Rajab, hinga ditanya dua tiga kali, kemudian jawabnya: “Ya Tuhan, Engkaulah Yang pandai merahasiakan segala cacad dan cela, dan Engkau pula yang menyuruh makhlukMu supaya merahasiakannya pada lain orang, itulah sebabnya RasulMu menyebutku “pekak”, aku semata hanya mendengan kebaktian mereka, ketaatan dan kebaikan mereka, lain tidak. Selanjutnya Allah berfirman: “Engkau bulanKu yang pandai menyimpan cacad dan pekak hamba-hambaku yang ber’aib, Aku terima mereka berikut ‘aib/cacadnya berkat kehormatanmu seperti halnya Aku terima kamu berikut ‘aib/cacadmu. Aku mengampuni mereka sebab menyesali dosa mereka 1x dalam bulan Rajab, dan dalam bulan itu pula Aku tiada mencatat kemaksiatan mereka.” (Misykatul Anwar).
  3. Dari ‘Aisyah ra., Nabi SAW bersabda:
    “Kelak di hari Kiamat seluruh manusia dalam keadaan lapar, kecuali para Nabi dan keluarga mereka, serta orang-orang yang berpuasa Rajab, puasa Sya’ban dan puasa Ramadhan, mereka tetap dalam keadaan tenang, tidak merasa lapar atau pun dahaga.” (Zubdatul wa’idhin)
  4. Diriwayatkan dalam hadits:
    “Ketika Kiamat telah tiba, terdengalah panggilan: “Dimanakah keluarga Rajab ? Lalu keluarlah nur-cahaya, diikuti Jibril dan Mikail, serta keluarga Rajab. Kemudian mereka bergerak melintasi shirath bagai kilat menyambar, dan bersujud kepada Allah SWT menyampaikan rasa syukur mereka kepadaNya. Allah berfirman: “Hai keluarga Rajab, pada hari ini kalian boleh mengangkat kepalamu, sungguh kalian telah bersujud di dunia di bulanKu, silahkan mengambil tempat masing-masing” (Raunaqul Majalis)
  5. Dari Anas bin Malik ra., ia berkata :Aku bertemu Mu’adz bin Jabal, sahutku: Dari manakah anda hai Mu’adz. Jawabnya: Aku baru saja dari Nabi saw. Lalu apa yang kau dengar ? Jawabnya: Aku mendengar:“Siapa membaca LAILAHA ILLALLAH secara ikhlas, pasti ia masuk sorga. Dan siapa berpuasa sehari dalam bulan Rajab semata mengharap ridla Allah, pasti masuk sorga.” Kemudian akupun masuk ke rumah Rasul saw. menanyakan tentang khabar yang disampaikan oleh Mu’adz, maka beliaupun bersabda: “Benar apa yang disampaikan oleh Mu’adz”. (Zahratur -Riyadl)

Selain itu, patut pula untuk diingat bahwa sanya pada bulan Rojab inilah Rosululloh di "panggil" oleh Alloh untuk di Isro dan Mi'rojkan. Ketika itu pula lah, perintah untuk sholat di berikan oleh Alloh SWT. Dalam pada itu, baik pula bagi kita untuk sejenak menengok bagaimana sholat kita. Sepatutnya, dengan mengambil i'tibar yang terdapat pada bulan Rojab ini, kita baikkan lagi sholat kita, tentu saja, semua harus dilaksanakan dengan dasar ilmu syari'at agama, demi syahnya ibadah kita.

Berikut saya tambahkan, beberapa adzkar dan juga do'a yang baik untuk dibaca pada bulan Rojab. Maroji'nya saya sarikan dari kitab Shilahul Ghoyb yang disusun oleh guru kami Ustadzunal Mahbub Al Habib 'Umar ibn Sayyidil Walid Al-'Alim Al-'Allamah (Alm) Habib Abdurrohman bin Ahmad bin Abdulqodir As-Seggaf.

"Istighfar dan Tiga Macam Tasbih Bulan Rojab"

"Robbighfirlii Warhamnii Wa Tub 'Alayya"
(Ya Alloh ampunkanlah hamba dan berilah Rohmat serta terima taubatku)
Cat: Dibaca pagi dan sore sebanyak tujuh puluh kali.

" Subhanallohil hayyil qoyyum"
Cat : Dibaca pagi dan sore dari tanggal 1-10 Rojab, 100x

"Subhanallohil Ahadish Shomad"
Cat : Dibaca pagi dan sore dari tanggal 11-20 Rojab, 100x

"Subhanallohir Rouf"
Cat : Dibaca pagi dan sore dari tanggal21-30 Rojab, 100x

Do'a Bulan Rojab

Bismillahirrohmanirrohim. Alhamdulillahirobbil'alamin. Allohumma Sholli wa Sallim 'ala Sayyidina Muhammad wa 'ala ali Sayyidina Muhammad. Allohumma bimusyahadati asrorilmuhibbin wa bil kholwatillati khoshshoshta biha Sayyidal Mursalin, hina asroyta bihi laylatassabi'i wal 'isyrin an tarhama qolbil haziin. Wa tujiba da'watii Ya Akromal akromiin. wa shollallohu 'ala Sayyidina Muhammadin wa 'ala alihi wa Shohbihi wa sallam, Wal Hamdulillahi Robbil'alamin. (Cat : dibaca setiap hari, terutama sekali, dibaca berulang-ulang pada tanggal 27 rojab)

Wallohu A'lam bishshowab, Robbi zidnii 'ilman....

4 Bulan yang Indah

Sifat anak yang soleh
Mentaati ibu ayah
Tidak membantah
Malah mentaatinya

Anakku...

Empat bulan kita tlah lalui bersama. Hadirmu membawa ceria. Penawar duka, penghilang gulana. Ceria slalu menyerta ketika kau ada. Sedih seolah terlupa dengan hanya melihatmu tertawa

Anakku...

Empat bulan kita tlah lalui bersama. Rasanya, baru kemarin saja. Kala itu, hari kelahiranmu, sejuta rasa berkecamuk di dada. Harap-harap cemas, tak lupa teriring do'a, menemaniku seraya menanti kau tiba.

Anakku...

Empat bulan kita tlah lalui bersama. Tangisan kecilmu mengawali perjumpaan kita. Kau lahir sebagai bayi yang sempurna. Mata jelimu, rambut hitam tebalmu..ah anakku, rasanya seperti baru kemarin sahaja.

Anakku...

Empat bulan kita tlah lalui bersama. Sudah banyak hal yang tlah kau rasa. Bingung, senang, sedih, bahkan rasa takutpun ada.

Anakku...

Empat bulan kita tlah lalui bersama. Maafkan ayahmu ini, jika belum bisa menjadi ayah yang sempurna. Maafkan ayahmu ini, kerana, terkadang tlah menjadi penyebab tangismu. Maafkan ayahmu terlalu banyak meninggalkan dan kurang menjaga. Maafkan jika aku belum bisa menjadi ayah yang baik.

Anakku...

Empat bulan kita tlah lalui bersama. Dan ayah berjanji, akan terus mencoba dan berusaha, supaya bisa menjadi ayah yang baik untukmu.

Anakku...

Empat bulan kita tlah lalui bersama. Tumbuh dan tumbuhlah terus agar kau kelak menjadi anak yang berguna. Terima kasih atas empat bulan ini, empat bulan yang paling menyenangkan selama hidupku ini. Semoga, rasa ini berkekalan di masa-masa berikutnya.

Ya Alloh...

Bantulah anakku untuk tumbuh menjadi anak yang sholeh dan berguna. Bantu pula hamba agar dapat mendidiknya, agar kelak ia dapat menjadi anak yang selama ini ku cita.

Selamat 4 bulan anakku....ayah mencintaimu.

Himbauan Istimewa

Terror bom kembali marak. Dimulai dari Utan Kayu, Bekasi, Cibubur, bahkan Bandara Internasional Soekarno-Hatta mendapat kiriman "paket mencurigakan" dari pihak-pihak yang diklaim sebagai teroris, maka kembali saya akan menyampaikan sebuah himbauan, yang meskipun dalam beberapa kesempatan sudah pernah saya sampaikan, tapi nampaknya masih sesuai dengan kondisi terkini.

Dengan harapan, sahabat semua dapat mengambil perhatian dan membantu saya menyebar luaskan himbauan ini kepada siapapun yang sahabat rasa dapat memberikan manfaat yang luas. Saya juga mengizinkan, bahkan berterima kasih, apabila sahabat sudi "menempelkan" himbauan ini di blog kalian. Demikian, silahkan membaca, dan semoga bermanfaat.

Himbauan Istimewa 

Demi keamanan dan ketentraman warga, dihimbau kepada seluruh masyarakat pencinta tanah air khususnya di lingkungan di mana saja kita berada, untuk mewaspadai hal-hal sebagai berikut :

  1. Orang-orang yang tidak dikenali, dan berlalu-lalang atau mondar-mandir dengan jeda waktu yang berbeda-beda. Baik dengan berjalan kaki ataupun tidak. Pada pagi, siang, sore ataupun di malam hari. Baik bersepeda, bersepeda motor, maupun dengan mobil. Jika perlu, dicatat nomor kendaraannya dan melaporkannya kepada aparat setempat atau kantor polisi terdekat.
  2. Mengenali secara persis dan akurat anggota hansip di per-RT/RW yang bertugas di wilayahnya atau di lingkungannya masing-masing, sehingga tidak asal warga yang bertugas mengamankan lingkungan, baik di perkampungan maupun perumahan.
  3. Untuk mewaspadai tingkah laku maupun prilaku warga yang dapat menimbulkan ricuh atau rusuh tersebab perbuatannya.

Demikian yang dapat kami sampaikan sementara. Mohon di sebar luaskan !!!

Salam


Jaringan Komunikasi Masyarakat Pecinta Tanah Air
(JKOMPITAI/2009)

Catatan Ksatria Berkuda : Himbauan ini berlaku bagi sahabat yang masih mencintai Indonesia dan merasa berdarah merah putih. Jika sahabat masih merasa bagian dari masyarakat Indonesia, maka sudah sepatutnya sahabat menyebarluaskan himbauan ini. Satu lagi dari saya, dan jangan pernah sahabat lupakan : Waspadai Kebangkitan Komunis !!!

Membahagiakan orangtua selagi bisa

Syahdan pensil dan penghapus bercakap-cakap

Pensil : Maafkan aku.

Penghapus : Maafkan untuk apa? Kamu tak melakukan kesalahan apa pun.

Pensil: Aku minta maaf karena telah membuatmu terluka. Setiap kali aku melakukan kesalahan, kamu selalu ada utk menghapusnya. Namun setiap kali kamu menghapus kesalahanku, kamu kehilangan sebagian dari dirimu. Kamu akan menjadi semakin kecil dan kecil. Begitu seterusnya.

Penghapus : tapi aku sama sekali tak merasa keberatan. Kau lihat, aku memang tercipta untuk melakukan itu semua, untuk selalu membantumu setiap saat kau melakukan kesalahan. Walaupun suatu hari nanti aku tahu bahwa aku akan pergi dan kau akan menggantikan diriku dengan yg baru, aku ikhlas. Aku bahagia dengan perananku. Jadi tolonglah, kau tak perlu khawatir. Aku tidak suka melihat dirimu bersedih.

Percakapan antara pensil dan penghapus di atas sesungguhnya hanya simbol. Sesuatu yang inspiratif.

Sampean mungkin tak sadar bahwa orang-orang tua kita bagaikan penghapus, sedangkan kita pensil. Orangtua selalu ada untuk anak-anak mereka, memperbaiki kesalahan anak-anaknya.

Ironisnya mereka mengorbankan dirinya sendiri, menjadi semakin kecil dan terus mengecil karena merawat anak-anaknya. Mereka bertambah tua dan akhirnya wafat.

Walaupun anak-anak mereka akhirnya akan menemukan seseorang yang baru (suami atau istri), namun orangtua akan selalu tetap merasa bahagia atas apa yang mereka lakukan terhadap anak-anaknya dan akan selalu merasa tidak suka bila melihat buah hati tercinta mereka merasa khawatir ataupun sedih.

Hingga saat ini, saya masih selalu menjadi si pensil. Dan sangat menyakitkan bagi diri saya untuk melihat si penghapus atau orangtua saya semakin bertambah "kecil" dan "kecil" seiring berjalannya waktu. Dan saya tahu bahwa kelak suatu hari, yang tertinggal hanyalah "serutan" si penghapus dan segala kenangan yg pernah saya lalui dan miliki bersama mereka.

Pagi ini kita semakin menyadari bahwa orangtua begitu berharga, tak ternilai.

Sudah selayaknya kita membahagiakan mereka sekarang juga

 

~tulisan ini saya dapat dari blog seorang senior, semoga bermanfaat~

Berfikir Praltis

Saya lupa pernah membaca cerita ini di mana. Tapi karena inspiratif dan bagus pula kisahnya, maka akan saya ketengahkan kembali di hadapan anda semua, pembaca setia tulisan-tulisan saya.

Mohon maaf jika kalian dapati kisah ini tidak persis sama dengan kisah yang sudah kalian baca, karena, akan saya ceritakan kembali dengan versi saya. Selamat menyimak.

Dalam era modern ini, banyak negara-negara maju yang berlomba-lomba untuk menerbangkan astronotnya ke luar angkasa. Entah itu ke bulan, ataupun ekspedisi ke planet-planet lain untuk menjajaki kemungkinan planet tersebut bisa ditempati.

Hanya saja, ada satu masalah yang kemudian dihadapi astronot tersebut. Berkaitan dengan teori anti garvitasi di ruang hampa. Sebagaimana diketahui ketika itu, untuk membukukan penelitian mereka, para ilmuwan dan astronot belum menggunakan semacam laptop atau pda, melainkan ditulis manual menggunakan pulpen dan kertas. Masalah terjadi ketika tinta yang keluar dari pulpen tidak bisa menempel di kertas, kerana hukum anti gravitasi tadi. Sialnya, masalah tersebut sama dirasakan oleh negara-negara maju tersebut, semisal Amerika, Rusia, dan Jepang.

Walhasil, Amerika pun melakukan penelitian. Setelah menghabiskan biaya jutaan dollar dan waktu berbulan-bulan lamanya, mereka berhasil menciptakan pulpen anti gravitasi.

Rusia pun tak mau kalah. Dengan sumber daya dan dana yang merke miliki, mereka melakukan penelitian juga. Dengan menghabiskan buaya besar dan waktu yang cukup lama, mereka berhasil menciptakan kertas penghisap tinta, sehingga tinta yang keluar tidak lagi mengambang di udara.

Lagu bagaimana dengan kompatriot mereka Jepang ?? Tidak memakan waktu lama, apalagi biaya yang besar, Jepang membawa satu alat yang sebenarnya sudah lama ada, yaitu pensil.

Sahabat, terkadang berfikir praktis memang diperlukan. Terkadang jawaban sebuah atau mungkin semua persoalan yang rumit itu sederhana saja, dan bisa jadi ada di dekat-dekat kita. Demikian kisah ini saya sampaikan, semoga bermanfaat.

Numpang Kenalan

Assalamu'alaikum

Mohon maaf kalo saya mengganggu paman dan bibi sekalian. Saya hanya meminta ruang sedikit untuk memperkenalkan diri saya.

Nama saya Muhammad Al-Fatih Hidayat bin Wahyu Hidayat. Abi saya itu teman paman dan bibi sekalian katanya. Ia pula yang meminta saya menulis di milis ini dan memperkenalkan diri saya kepada paman dan bibi sekalian. Sekalian minta do'a katanya.

Nama saya Muhammad Al-Fatih Hidayat bin Wahyu Hidayat. Muhammad itu artinya yang terpuji. Sedangkan Al-Fatih itu yang membuka. Saya boleh dipanggil fatih atau apapun sesuka paman dan bibi sekalian, asalkan panggilan tersebut baik.

Nama saya Muhammad Al-Fatih Hidayat bin Wahyu Hidayat. Kata abi, nama saya diambil dari salah seorang sultan dan panglima perang terbaik yang pernah Islam miliki. Beliau, rohimahulloh, yang membebaskan konstatantinopel dari cengkraman kaum kuffar. Kata abi lagi, Ar-Rosul junjungan pernah bersabda tentang beliau, "suatu saat konstantinopel akan jatuh. Yang menakklukkan adalah sebaik-baik pasukan dan yang memimpin adalah sebaik-baik panglima" (al-hadits). Kurang lebih begitu kata abi. Kalo saya salah kutip maafin ya ??!! Maklum saya kan masih kecil.

Nama saya Muhammad Al-Fatih Hidayat bin Wahyu Hidayat. Harapan abi, saya kelak bisa menjadi seperti sang empunya nama semula. Menjadi seorang yang terpuji, panglima dan pembuka pintu-pintu kebaikan. Paman dan bibi sekalian bantu do'akan saya ya. Bantu do'a abi dan ummi saya. Tapi, jangan do'akan saya agar menjadi seperti paman dan bibi sekalian. Do'akan saya agar saya lebih baik dari paman dan bibi sekalian.

Nama saya Muhammad Al-Fatih Hidayat bin Wahyu Hidayat. Dan saya mau mengundang paman dan bibi sekalian untuk datang ke aqiqahan saya di rumah abi saya. Acaranya besok loh. Hari sabtu, ba'da maghrib. Paman dan bibi sekalian dateng ya ! Saya kan mau liat wajah temen-temen abi saya juga.

Nama saya Muhammad Al-Fatih Hidayat bin Wahyu Hidayat. Terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada saya. Mohon maaf kalo perkenalan saya kurang berkenan di hati paman dan bibi sekalian. Maklum, saya masih anak kecil.

Nama saya Muhammad Al-Fatih Hidayat bin Wahyu Hidayat. Muhammad itu artinya yang terpuji. Sedangkan Al-Fatih itu yang membuka. Saya boleh dipanggil fatih atau apapun sesuka paman dan bibi sekalian, asalkan panggilan tersebut baik.

Semua Orang Itu Penting

Alkisah ada seorang pemuda naik pesawat dari Yogyakarta ke Jakarta. Duduk di sebelahnya seorang ibu yang sudah berumur.

Si pemuda menyapa, dan tak lama mereka terlarut dalam obrolan ringan.

"Ibu, ada acara apa pergi ke Jakarta?" tanya si pemuda dengan sopan.

"Saya mau ke Jakarta terus ke Singapura menengok anak saya yang kedua," jawab ibu itu.

"Wow…hebat sekali putra ibu," pemuda itu menyahut.

Dengan keberanian yang didasari rasa ingin tahu, pemuda itu lalu melanjutkan pertanyaannya.

"Kalau saya tidak salah, anak yang di Singapura itu putra yang kedua ya, Bu? Bagaimana dengan kakak adik-adiknya?"

"Anak saya yang ketiga jadi dokter di Malang, yang keempat kerja di perkebunan di Lampung, yang kelima menjadi arsitek di Jakarta, yang keenam menjadi kepala cabang bank di Purwokerto, yang ketujuh menjadi dosen di Semarang," jawab si ibu dengan bangga.

Pemuda itu ternganga mulutnya. Hebat betul ibu ini, pikirnya. Dia bisa mendidik anak-anaknya dengan sangat baik, dari anak kedua sampai ketujuh.

"Lalu bagaimana dengan anak pertama ibu" tanya si pemuda penasaran.

Sambil menghela napas panjang, ibu itu menjawab, "Anak saya yang pertama menjadi petani di Godean, Yogyakarta, Nak. Dia menggarap sawahnya sendiri, yang tidak terlalu lebar."

Pemuda itu buru-buru menukas, "Maaf ya, Bu…ibu tampaknya agak kecewa ya anak pertama ibu, ya? Adik-adiknya berpendidikan tinggi dan sukses di pekerjaannya, sedang dia hanya menjadi petani..."

Dengan tersenyum ibu itu menjawab, "Ooo … tidak... tidak begitu, Nak. Justru saya sangat bangga dengan anak pertama saya, karena dialah yang membiayai sekolah semua adik-adiknya dari hasil bertani."

Pemuda itu langsung terdiam dan merenung.

Moral cerita: Semua orang di dunia ini penting. Bukalah mata, pikiran, hati. Kita tidak bisa membuat ringkasan atau kesimpulan sebelum membaca buku itu sampai selesai.

Orang bijak mengatakan, "Hal yang paling penting bukanlah "siapakah kita" namun "apa yang sudah kita lakukan."

» Kisah di atas cocok buat saya dan kita semua dan ini saya copas dari posterousnya ndorokakung

Jelang 30 September (II)

Jelang 30 September....

 

hanya sekedar sebuah pengingatan, 

 

tentang sebuah tragedi yg memilukan, 

 

yang sayangnya sudah mulai kita lupakan,

 

kerana dunia yang mulai melenakan

=====================================================================================================Jejak Hitam Pemberontakan PKI Madiun

Tak dapat dipungkiri, musuh utama PKI adalah umat Islam, terutama para kiainya. Kiai dianggap sebagai musuh karena memiliki ribuan pengikut (jamaah) yang setia.

Salah satu unsur umat Islam yang juga paling dibenci PKI adalah Masyumi. Hal ini diungkapkan oleh KH Roqib, salah seorang korban kebiadaban PKI Madiun 1948 yang masih hidup. Kini KH Roqib adalah imam besar Masjid Jami’ Baitussalam Magetan.

Sebagai salah seorang kiai yang juga tokoh Masyumi, Roqib pun menjadi sasaran yang harus dilenyapkan. Dia diculik PKI sekitar pukul 03.00 dini hari pada tanggal 18 September 1948, tak lama setelah PKI merebut kota Madiun. Sebanyak 12 orang anggota PKI berpakaian hitam dengan ikat kepala merah menciduk Roqib di rumah kediamannya di kampung Kauman, Magetan. Dini hari itu juga dia dibawa ke Desa Waringin Agung dan disekap di sebuah rumah warga.

Di sebuah dusun bernama Dadapan yang termasuk dalam wilayah Desa Bangsri Roqib diseret oleh beberapa orang ke sebuah lubang di tengah ladang. Ketika akan disembelih di depan lubang, tiba-tiba Roqib mengingat pelajaran pencak silat yang diperolehnya. Seketika itu dia menghentakkan kakinya dan meloncat lari ke kebun singkong.

Begitu lolos, Roqib bersembunyi di antara rerimbunan semak belukar hingga siang hari. Naas, siang itu pula dia ditemukan kembali oleh anggota PKI yang mengejarnya. Roqib pun tertangkap dan diikat lagi, lalu disiksa sepanjang jalan dari Desa Bangsri hingga pabrik gula Gorang-Gareng.

Di pabrik gula Gorang-Gareng, Roqib disekap dalam sebuah loji (rumah-rumah besar untuk asrama karyawan). Di dalam loji terdapat banyak kamar dengan berbagai ukuran. “Ketika saya datang ke loji itu, kamar-kamarnya sudah penuh dengan tawanan. Satu kamar ukuran 3 x 4 meter diisi kurang lebih 40-45 orang. Bersama 17 orang lainnya, saya dimasukkan ke dalam salah satu kamar yang terdapat di ujung loji,” tutur Roqib.

PKI kemudian menembaki loji tempat Roqib dan tawanan lainnya disekap lebih dari satu jam lamanya. Tubuh-tubuh yang terkena peluru langsung terkapar di lantai bersimbah darah. Para algojo PKI tidak memedulikan teriakan histeris para korban yang terkena peluru. Mereka terus saja melakukan tembakan. Di antara belasan orang yang ada di dalam loji, hanya Roqib dan Salis, serta seorang tentara bernama Kafrawi, yang selamat.

Menurut guru ngaji ini, setiap habis menembak, pistol yang digunakan PKI itu tidak bisa menembak lagi, tapi harus dikokang dulu. “Saya bisa selamat dari tembakan karena memperhitungkan jeda waktu antara tiap tembakan sambil bersembunyi di bawah jendela. Kalau tanpa pertolongan Allah, tidak mungkin saya selamat,” kata Roqib getir.

Beberapa saat kemudian tentara Siliwangi datang menjebol pintu loji dengan linggis. Suasana sudah mulai sepi karena PKI telah melarikan diri, takut akan kedatangan pasukan Siliwangi. “Ruangan tempat saya disekap itu benar-benar banjir darah. Ketika roboh dijebol dan jatuh ke lantai, pintu itu mengapung di atas genangan darah. Padahal, ketebalannya sekitar 4 cm. Darah yang membanjiri ruangan mencapai mata kaki,” ungkap Rokib.

Selain KH Roqib, terdapat beberapa ulama dan pimpinan pesantren di sekitar Magetan dan Madiun yang jadi korban kebiadaban PKI. Di antaranya adalah KH Soelaiman Zuhdi Affandi (Pimpinan Pesantren Ath-Thohirin, Mojopurno), KH Imam Mursjid (Pimpinan Pesantren Sabilil Muttaqin, Takeran), KH Imam Shofwan (Pimpinan Pesantren Thoriqussu’ada, Rejosari Madiun), serta beberapa kiai lainnya.

Pesantren Ath-Thohirin yang diasuh oleh KH Soelaiman Zuhdi Affandi terletak di Desa Selopuro, Magetan. Pesantren yang mengajarkan ilmu thariqat ini sejak zaman penjahan Belanda maupun Jepang telah menjadi pusat gerakan perlawanan. Di pesantren inilah para generasi muda disiapkan dan dilatih perang oleh Soelaiman. Soelaiman gugur menjadi korban keganasan PKI pada pemberontakan tahun 1948, mayatnya ditemukan di sumur tua Desa Soco.

Menurut R Bustomi Jauhari, cucu KH Soelaiman Zuhdi Affandi yang kini menjadi pimpinan Pesantren Ath-Thohirin, KH Soelaiman tertangkap pada waktu itu karena santrinya sendiri yang menjadi mata-mata PKI. Kemana pun sang kiai pergi, PKI pasti tahu. “Keluarga besar kami sangat berduka atas kematian kakek. Dari seluruh keluarga kami ada sebelas orang yang dibunuh PKI. Dan kebanyakan mereka adalah kiai,” ujar Bustomi.

Penangkapan KH Soelaiman Affandi terjadi dua hari setelah PKI mengkudeta pemerintahan yang sah, tepatnya pada tanggal 20 September 1948. Ketika itu Soelaiman sedang bertandang ke Desa Kebonagung kemudian diculik.

Setelah ditahan di penjara Magetan selama empat hari, KH Soelaiman beserta tawanan lainnnya, diangkut dengan gerbong kereta lori ke loji Pabrik Gula Rejosari di Gorang-Gareng. Dari Gorang-Gareng, para tawanan ini kembali diangkut dengan lori menuju Desa Soco dan dihabisi di sana.

Salah seorang menantu KH Soelaiman Affandi bernama Surono yang juga dibawa lori ke Desa Soco termasuk orang yang mengetahui bagaimana kejamnya PKI dalam menyiksa dan membunuh Kiai Soelaiman di sumur tua Desa Soco.

Menurut Surono, sebagaimana dituturkan Bustomi, PKI berulang kali menembak Kiai Soelaiman, namun tidak mempan. Begitu pula ketika dibacok pedang, Kiai Soelaiman hanya diam saja, lecet pun tidak. Setelah putus asa, algojo PKI akhirnya membawa Soelaiman ke bibir sumur lalu menendang punggungnya dari belakang. Tubuh Soelaiman yang tinggi besar itu terjerembab di atas lubang sumur yang tidak seberapa lebar.

Anggota PKI kemudian memasukkan tubuh Kiai Soelaiman secara paksa ke dalam sumur. Begitu menimpa dasar sumur, Kiai Soelaiman berteriak lantang menyebut asma Allah, laa ilaaha illallah, kafir laknatullah, secara berulang-ulang dengan nada keras. “Teriakan itu membuat PKI kian kalap dan melempari Soelaiman dengan batu,” tutur Surono.

Surono yang akan dibunuh namun ditunda terus karena dianggap paling muda, akhirnya tercecer di barisan belakang. Setelah kelelahan mengeksekusi puluhan orang dalam sumur tua itu, algojo PKI menyerahkan Surono kepada salah seorang anggota PKI yang lain.

Tak dinyana, ternyata anggota PKI yang akan membunuh Surono itu adalah temannya semasa sekolah dulu. Oleh temannya, Surono dibawa ke tempat gelap lalu dilepaskan. Setelah bebas, Surono kembali ke Mojopurno dan melaporkan kejadian yang dia alami kepada keluarga besar KH Soelaiman Affandi.

Salah seorang ulama yang juga pimpinan pesantren yang menjadi musuh utama PKI pada waktu itu adalah KH Imam Mursjid, pimpinan Pesantren Sabilil Muttaqin (PSM) Takeran, Magetan. Sebagai pesantren yang berwibawa di kawasan Magetan, tak heran jika PKI, segera mengincar dan menculik pimpinannya bersamaan dengan dideklarasikannya Republik Soviet Indonesia di Madiun.

Selain sebagai pimpinan pesantren, KH Imam Mursjid juga dikenal sebagai imam Thariqah Syatariyah. Selain itu PSM juga menggembleng para santri dengan latihan kanuragan dan spiritual.

Pada 18 September 1948, tepatnya seusai shalat Jumat, KH Imam Mursjid didatangi tokoh-tokoh PKI. Salah seorang tokoh PKI bernama Suhud mengajak Kiai Mursjid keluar dari mushola kecil di sisi rumah seorang warga pesantren bernama Kamil. Rencananya Imam Mursjid akan diajak bermusyawarah mengenai Republik Soviet Indonesia. Kepergian KH Imam Mursjid bersama orang-orang PKI itu tentu saja merisaukan warga pesantren. Menurut mereka, Kiai Mursjid tidak akan menurut begitu saja diajak berunding oleh PKI.

Di depan pendapa pesantren, KH Imam Mursjid dinaikkan ke atas mobil, yang kemudian melaju meninggalkan PSM diiringi kecemasan para santri dan warga lainnya. Kepergian KH Mursjid yang begitu mudah itu bukannya tanpa alasan. PSM telah dikepung oleh ratusan tentara PKI. Bisa jadi Kiai Mursjid tidak mau mengorbankan santrinya dan warga pesantren sehingga memilih mau ‘berunding’ dengan PKI.

Ternyata, kepergian Kiai Mursjid itu adalah untuk selama-lamanya, ia tidak pernah kembali lagi ke pesantrennya. Begitu terjadi pembongkaran lubang-lubang pembantaian PKI di sumur Desa Soco maupun di beberapa tempat lainnya, mayat Kiai Mursjid tidak ditemukan.

Dari daftar korban yang dibuat PKI sendiri pun, nama Kiai Mursjid tidak tercantum sebagai korban yang telah dibunuh. Tak heran, jika santri dan warga PSM masih percaya bahwa KH Imam Mursjid masih hidup hingga saat ini, namun entah berada dimana.

Ulama atau pimpinan pesantren lain yang menjadi korban keganasan PKI di Madiun adalah KH Imam Shofwan, pimpinan Pondok Pesantren Thoriqussu’ada, Desa Selopuro, Kecamatan Kebonsari. Salah seorang putra KH Imam Shofwan bernama KH Muthi’ Shofwan yang kini mengasuh Pesantren Thoriqussu’ada mengungkapkan, ayahnya ditangkap PKI bersama dengan dua orang kakaknya, yakni KH Zubeir dan KH Bawani.

Penangkapan itu terjadi sehari setelah kepulangan Muthi’ Shofwan dari rumah kosnya di Madiun. Sebagai murid salah satu SMP di Madiun, Muthi’ tiap minggu pulang ke Selopuro, biasanya tiap hari Kamis malam Jumat. “Ketika tiba di rumah pada waktu itu, ayah saya (KH Imam Shofwan) beserta dua kakak saya telah ditangkap oleh PKI. Ibu saya bilang bahwa ayahmu pergi dibawa orang naik dokar,” tutur KH Muthi’ mengingat kejadian itu.

Beberapa hari kemudian dia mendengar berita bahwa ayah dan dua kakaknya itu ditahan di Desa Cigrok (sekarang Kenongo Mulyo). “Mas Zubeir dan rombongannya sekitar delapanbelas orang, pada malam Jumat itu, telah dibunuh oleh PKI dan dimasukkan ke dalam sebuah sumur. Karena Mas Zubeir agak sulit dibunuh, maka PKI dengan paksa menceburkannya ke dalam sumur dan menimbunnya dengan batu,” kata Muthi’.

Pada malam yang sama, ayahnya dan Kiai Bawani serta beberapa tawanan lainnya dibawa ke Takeran. Esoknya, para tawanan ini dipindah lagi ke Pabrik Gula Gorang-Gareng lalu dibawa kembali ke Desa Cigrok. Di sebuah sumur tua yang tidak terpakai lagi, KH Imam Shofwan yang merupakan saudara kandung KH Soelaiman Affandi (pengasuh Pesantren Ath-Thohirin, Mojopurno, Magetan) dan Kiai Bawani dibunuh dan dimasukkan ke dalamnya.

Rupanya, ketika dimasukkan ke dalam sumur, KH Imam Shofwan dan Kiai Bawani masih hidup. KH Shofwan bahkan sempat mengumandangkan adzan yang diikuti oleh puteranya. Melihat korbannya masih belum mati di dalam sumur, algojo-algojo PKI tidak peduli. Mereka melempari korban dengan batu lantas menimbunnya dengan jerami dan tanah.

Pada tahun 1963 jenazah para korban kebiadaban PKI yang terkubur di sumur tua Desa Cigrok digali, lalu dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Magetan. Jadi sejak tahun 1948 hingga 1963, jenazah para korban PKI masih tertimbun dalam sumur itu.

Menurut KH Muthi’ Shofwan, menghabisi ulama dan umat Islam memang keinginan kuat PKI, karena ulama dianggap sebagai penghalang berkembangnya ideologi mereka. “Komunis sangat anti pada Islam, oleh karena itu jangan dibiarkan bangkit lagi!” tegasnya.

 

sumber : http://joliveng.blogspot.com/2010/01/jejak-hitam-pemberontakan-pki-madiun.html

Roket Indonesia Gentarkan Australia, Singapura, dan Malaysia

Roket RX-420 & CN-235 Militer:
Getarkan Australia, Singapura, Malaysia
Oleh Cardiyan HIS


Momentum ini harus dijaga terus dan ditingkatkan sebagai kebanggaan atas kemampuan teknologi sendiri. Jangan sampai karya insinyur Indonesia ini dijegal justru oleh orang Indonesia sendiri (biasa) para ekonom-ekonom Pemerintah yang sering menganggap karya bangsa sendiri sebagai terlalu mahal dan hanya buang-buang uang saja untuk riset ....! Inilah musuh yang sebenarnya. Waspadailah kawan-kawan insinyur Indonesia.

Meski sudah berlangsung 2 pekan yang lalu, peluncuran roket RX-420 Lapan
 ternyata masih jadi buah bibir. Anehnya bukan jadi buah bibir di Indonesia yang lebih senang ceritera Pilpres, tetapi di Australia, Singapura dan tentu saja di negara tetangga yang suka siksa TKI dan muter-muterin Ambalat yakni Malaysia.

Seperti diketahui roket RX-420 ini menggunakan propelan yang dapat memberikan daya dorong lebih besar sehingga mencapai 4 kali kecepatan suara. Hal itu membuat daya jelajahnya mencapai 100 km. Bahkan bisa mencapai 190 km bila struktur roket bisa dibuat lebih ringan. Yang punya nilai tambah tinggi ini adalah 100% hasil karya anak bangsa, para insinyur Indonesia. Begitu pula semua komponen roket-roket balistik dan kendali dikembangkan sendiri di dalam negeri, termasuk software. Hanya komponen subsistem mikroprosesor yang masih diimpor. Anggaran yang dikeluarkan untuk peluncurannya pun “cuma” Rp 1 milyar. Kalah jauh dengan yang dikorupsi para anggota DPR untuk traveller checks pemenangan Miranda Gultom sebagai Deputi Senior Gubernur BI yang lebih dari Rp. 50 milyar. Apalagi kalau dibandingkan dengan korupsi BLBI yang lebih dari Rp. 700 trilyun.

Mengapa malah menjadi buah bibir di Australia, Singapura dan Malaysia? Karena keberhasilan peluncuran roket Indonesia ini ke depan akan membawa Indonesia mampu mendorong dan mengantarkan satelit Indonesia bernama Nano Satellite sejauh 3.600 km ke angkasa. Satelit Indonesia ini nanti akan berada pada ketinggian 300 km dan kecepatan 7,8 km per detik. Bila ini terlaksana Indonesia akan menjadi negara yang bisa menerbangkan satelit sendiri dengan produk buatan sendiri. Indonesia dengan demikian akan masuk member "Asian Satellite Club" bersama Cina,Korea Utara, India dan Iran.

Nah kekhawatiran Australia, Singapura dan Malaysia ini masuk akal, bukan? Kalau saja Indonesia mampu mendorong satelit sampai 3.600 km untuk keperluan damai atau keperluan macam-macam tergantung kesepakatan rakyat Indonesia. Maka otomatis pekerjaan ecek-ecek bagi Indonesia untuk mampu meluncurkan roket sejauh 190 km untuk keperluan militer bakal sangat mengancam mereka sekarang ini pun juga!!! Kalau tempat peluncurannya ditempatkan di Batam atau Bintan, maka Singapura dan Malaysia Barat sudah gemetaran bakal kena roket Indonesia. Dan kalau ditempatkan di sepanjang perbatasan Kalimantan Indonesia dengan Malaysia Timur, maka si OKB Malaysia tak akan pernah berpikir ngerampok Ambalat. Akan hal Australia, mereka ada rasa takutnya juga. Bahwa mitos ada musuh dari utara yakni Indonesia itu memang bukan sekedar mitos tetapi sungguh ancaman nyata di masa depan dekat.

CN 235 Versi Militer
Rupanya Australia, Singapura dan Malaysia sudah lama “nyaho” kehebatan insinyur-insinyur Indonesia. Buktinya? Tidak hanya gentar dengan roket RX-420 Lapan tetapi mereka sekarang sedang mencermati pengembangan lebih jauh dari CN235 versi Militer buatan PT. DI. Juga mencermati perkembangan PT. PAL yang sudah siap dan mampu membuat kapal selam asal dapat kepercayaan penuh dan dukungan dana dari pemerintah.

Kalau para ekonom Indonesia antek-antek World Bank dan IMF menyebut pesawat-pesawat buatan PT. DI ini terlalu mahal dan menyedot investasi terlalu banyak (“cuma” Rp. 30 trilun untuk infrastruktur total, SDM dan lain-lain) dan hanya jadi mainannya BJ Habibie. Tetapi mengapa Korea Selatan dan Turki mengaguminya setengah mati? Turki dan Korsel adalah pemakai setia CN 235 terutama versi militer sebagai yang terbaik di kelasnya. Inovasi 40 insinyur-insinyur Indonesia pada CN 235 versi militer ini adalah penambahan persenjataan lengkap seperti rudal dan teknologi radar yang dapat mendeteksi dan melumpuhkan kapal selam. Jadi kalau mengawal Ambalat cukup ditambah satu saja CN235 versi militer (disamping armada TNI AL dan pasukan Marinir yang ada) untuk mengusir kapal selam dan kapal perang Malaysia lainnya.

Nah, jadi musuh yang sebenarnya ada di Indonesia sendiri. Yakni watak orang Indonesia yang tidak mau melihat orang Indonesia sendiri berhasil. Karya insinyur-insinyur Indonesia yang hebat dalam membuat alutsista dibilangin orang Indonesia sendiri terutama para ekonom pro Amerika Serikatdan Eropa: “Mending beli langsung dari Amerika Serikat dan Eropa karena harganya lebih murah”. Mereka tidak berpikir jauh ke depan bagaimana Indonesia akan terus tergantung di bidang teknologi, Indonesia hanya akan menjadi konsumen teknologi dengan membayarnya sangat mahal terus menerus sampai kiamat tiba.
Post
Kalau ada kekurangan yang terjadi dengan industri karya bangsa sendiri, harus dinilai lebih fair dan segera diperbaiki bersama-sama. Misalnya para ahli pemasaran atau sarjana-sarjana ekonomi harus diikutsertakan dalam team work. Sehingga insinyur-insinyur itu tidak hanya pinter produksi sebuah pesawat tetapi setidaknya tahu bagaimana menjual sebuah pesawat itu berbeda dengan menjual sebuah Honda Jazz. Kalau ada kendala dalam pengadaan Kredit Ekspor sebagai salah satu bentuk pembayaran, tolong dipecahkan dan didukung oleh dunia perbankan, agar jualan produk sendiri bisa optimal karena akan menarik bagi calon pembeli asing yang tak bisa bayar cash.

sumber : copas dari milist angkatan

Posterous theme by Cory Watilo