Aku Bangga
Dosen Universitas HAMKA Jakarta Alfian Tanjung
menegaskan dirinya bangga menjadi orang antikomunis. Itu dia kemukakan
menanggapi anggota DPR Ribka Tjiptaning Proletariyati yang lantang menyatakan
bahwa dirinya bangga menjadi anak aktivis Partai Komunis Indonesia (PKI).
Penegasan Alfian Tanjung itu dikemukakan saat mendampingi Panglima Kodam Jaya
Mayor Jenderal Agustadi Sasongko Purnomo pada jumpa pers, seusai acara serah
terima jabatan Kepala Staf Kodam Jaya dari Brigjen Pruyanto kepada Brigjen
Darpito P, di Aula Sudiman, Makodam Jaya, Jakarta, Sabtu siang.
Alfian Tanjung yang mengaku sebagai kader gerakan Islam, yang secara ideologis
tidak akan pernah bertemu dengan komunis, kembali menguraikan upayanya untuk
mengumpulkan data-data mengenai kegiatan kader-kader komunis di berbagai
daerah, terutama di Jawa Timur.
Ketika ditanya mengenai data-data yang dia peroleh, menurut Alfian, yang paling
nyata dan menjadi ikon adalah Ribka Tjitaning Proletariyati yang telah
meluncurkan bukunya pada awal Oktober 2002 dengan judul "Aku Bangga Jadi Anak
PKI" dan pada pertengahan tahun lalu dia meluncurkan buku kedua dengan judul
"Anak PKI Menjadi Anggota Parlemen".
Menurut Alfian, gerakan kader komunis Indonesia pada saat ini sudah mencapai
"stadium empat". "Saya melihat bahwa hal ini merupakan kelicikan dan kelicinan
cara bermain kader-kader komunis - PKI - sejak dulu. Mereka menunggu sampai
orang tidak berdaya dan kemudian baru memukul mati lawan-lawannya," ujarnya,
tegas.
Alfian menyadari bahwa apa yang dia kemukakan itu akan mendapat reaksi negatif.
"Saya katakan, siapapun yang ingin kembali membangkitkan paham komunis di
Indonesia, anda boleh menganggap sudah cukup di atas angin. Tetapi, Anda akan
berhadapan dengan orang-orang yang siap mati untuk menghadapi kebangkitan
anda," kata Alfian.
Ditegaskan pula bahwa kebangkitan komunis (di Indonesia) sedang menunggu hari.
Ini sangat kentara dengan munculnya buku-buku, demonstrasi yang menggunakan
lambang-lambang Palu Arit dan kaos-kaos Palu Arit yang banyak dipakai mahasiswa
di beberapa kampus. "Saya pikir bukan persoalan simbul, tetapi persoalan akar
kemengapaan orang-orang itu muncul," katanya.
Alfian juga bersedia menyebutkan nama-nama kader komunis yang sekarang duduk di
DPR, antara lain HM Rusli yang dulu menjadi Ketua PRD kini menjadi petinggi di
PAN. Kemudian Yusuf Lakaseng, yang dahulu petinggi PKI muda yang sekarang
berada di PBR. Dalam masalah ini, Alfian menyatakan, siap untuk menyebutkan
orang-orang itu satu persatu, asalkan mereka berkata jujur dalam permasalahan
ini.
"Apabila Ribka Tjiptoning yang mewakili PDIP secara terang-terangan menyatakan,
bangga menjadi anak PKI. Maka saya menyatakan, bangga menjadi antikomunis atau
anti-PKI," kata Alfian. Dia mengatakan, kalau memang harus ada pertarungan
lagi, maka hal itu akan dilanjutkan. "Masalahnya persoalan itu bukan urusan
hari ini, karena negara kita sedang menghadapi berbagai persoalan yang cukup
banyak, multi krisis yang harus ditangani. Intinya ingin saya katakan, hari ini
adalah lahan subur kebangkitan PKI," katanya lagi.
Alfian mengingatkan, pencabutan TAP MPRS Nomor XXV/1966 bukan persoalan sepele.
Itu merupakan kerangkeng keras yang dibangun dengan tiga implikasi. Karena bila
TAP di cabut, berarti PKI tidak salah. Kalau PKI tidak salah, maka yang salah
adalah TNI dan umat Islam.
"Jika TAP itu dicabut maka mereka (PKI - Red) punya hak untuk rehabilitasi dan
konpensasi. Artinya, pemerintah harus keluarkan uang Rp 2,5 miliar kali 20 juta
klaim anggota mereka. Dengan demikian PKI juga boleh ikut pemilu 2009. Ini
bukan bercanda," kata Alfian.
Dia mengingatkan, apabila tahun 1948 (tragedi Madiun) sudah berdarah-darah,
tahun 1965 (G30S) kembali berdarah-darah, apakah itu harus terulang lagi.
"Ancaman kebangkitan kembali PKI cukup serius," ujar Alfian. (M Senoatmodjo)